Nilai Budaya sebagai Sistem Makna
Penulis : Dr. Mujtahidin, S.Pd., M.Pd.
Lecturer at University of Trunojoyo Madura
Founder of Musa Foundation and The Voice Behind IRHAS Values
Clifford Geertz (1973) dalam karyanya The Interpretation of Cultures, memperkenalkan pendekatan antropologi interpretatif yang menekankan bahwa budaya adalah jaringan makna yang ditenun oleh manusia dan harus ditafsirkan secara mendalam melalui pendekatan thick description. Melalui pendekatan ini, praktik budaya—termasuk ritual, bahasa, simbol, dan relasi sosial—bukanlah sesuatu yang permukaan, tetapi mencerminkan nilai-nilai yang membentuk identitas kolektif. Dalam konteks pendidikan karakter, pendekatan ini mendorong guru dan pembuat kebijakan untuk tidak sekadar menggunakan budaya lokal sebagai ornamen atau hiasan dalam kurikulum, tetapi sebagai sumber pemaknaan nilai yang dapat diinternalisasi siswa melalui pengalaman langsung dan refleksi mendalam.
Di Madura misalnya, tradisi seperti taretan, ghibeng, atau carok tidak bisa dipahami sekadar sebagai tindakan sosial, tetapi merupakan ekspresi nilai kekerabatan, kehormatan, dan keberanian—yang dalam konteks Pendidikan Pancasila dapat diterjemahkan sebagai nilai solidaritas, harga diri, dan tanggung jawab sosial. Pendekatan Geertz memberikan dasar konseptual untuk memahami mengapa penting menjadikan nilai-nilai budaya lokal ini sebagai materi hidup dalam pendidikan karakter.
Etnopedagogi sebagai Jalan Pendidikan Nilai Sosial
James P. Spradley (1979) dalam The Ethnographic Interview mengembangkan pendekatan etnografi partisipatoris yang menekankan pentingnya merekonstruksi sistem makna yang hidup dalam komunitas lokal dari perspektif aktor-aktor budayanya. Ini sangat penting dalam konteks pendidikan, karena nilai-nilai tidak hanya diajarkan tetapi dihidupi. Penelitian etnografis terhadap nilai-nilai budaya lokal memungkinkan perancang pendidikan untuk menemukan struktur konseptual dari karakter lokal, seperti bagaimana nilai temor pote tolang (lebih baik mati daripada kehilangan harga diri) diterjemahkan menjadi sikap integritas, atau bagaimana nilai salamet (keselamatan) dalam kehidupan sehari-hari mengajarkan prinsip kehati-hatian, keberimbangan, dan gotong royong. Dengan demikian, pendekatan Spradley menguatkan pentingnya menggali secara mendalam konteks nilai lokal sebelum melakukan integrasi ke dalam desain pembelajaran, termasuk dalam media digital seperti game edukatif. Proses ini tidak hanya menjamin autentisitas konten, tetapi juga meningkatkan daya identifikasi siswa terhadap materi pembelajaran.
Etnopedagogi sebagai Jalan Pendidikan Pancasila yang Kontekstual
H.A.R. Tilaar (2004) dalam karya-karyanya tentang pendidikan nasional menekankan bahwa etnopedagogi adalah pendekatan pendidikan yang memanfaatkan nilai-nilai lokal sebagai dasar transformasi pendidikan nasional. Tilaar melihat bahwa pendidikan Indonesia sering mengalami ketidaksesuaian antara visi globalisasi dan realitas lokal. Akibatnya, anak-anak Indonesia tumbuh dengan nilai-nilai yang tercerabut dari akar budayanya sendiri.
Etnopedagogi menekankan bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang berakar pada budaya masyarakatnya, karena budaya adalah hasil perjuangan historis suatu masyarakat dalam membangun kehidupan yang bermartabat. Dalam konteks ini, pendidikan karakter tidak cukup hanya mengadopsi nilai-nilai universal seperti jujur, tanggung jawab, atau kerja keras, tetapi juga perlu menerjemahkannya melalui kearifan lokal yang lebih mudah dikenali dan dirasakan anak-anak.
Misalnya, dalam pendidikan dasar di Madura, nilai abâ’ beccèk (taat pada orang tua dan berperilaku baik) atau bhâsa bhâsa (sopan santun dalam tutur) dapat digunakan untuk memperkuat nilai Pancasila seperti hormat terhadap orang tua, musyawarah, atau toleransi. Tilaar menyarankan agar proses ini dilakukan melalui pendekatan kontekstual dan reflektif, dengan melibatkan komunitas, orang tua, serta tradisi yang masih hidup di masyarakat.
Pendidikan Pancasila merupakan inti dari pendidikan karakter dan budaya bangsa nasional yang bertujuan membentuk peserta didik tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga berkarakter kuat dan beridentitas kebangsaan. Dalam konteks ini, nilai-nilai budaya lokal memainkan peran strategis sebagai sumber nilai yang hidup, dinamis, dan kontekstual. Budaya lokal tidak hanya mewariskan norma, adat, dan simbol kolektif, tetapi juga membentuk pola perilaku dan etika sosial yang menjadi fondasi karakter masyarakat. Geertz, Spradley, dan Tilaar memberikan gagasan tentang pentingnya etnopedagogi yang dapat diintegrasikan dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila di Sekolah Dasar, yakni: (1) Geertz memberikan dasar ontologis dan epistemologis bahwa nilai budaya lokal adalah sistem makna yang harus ditafsirkan dalam konteksnya; (2) Spradley menawarkan pendekatan metodologis bahwa pemahaman budaya harus bersifat partisipatoris dan berangkat dari struktur makna yang hidup dalam masyarakat; serta (3) Tilaar menekankan aspek pedagogis bahwa pendidikan karakter harus berangkat dari kekayaan lokal sebagai basis pembentukan identitas nasional.
Dengan demikian, nilai-nilai budaya lokal dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila di SD melalui media digital yang kontekstual dan reflektif, sehingga nilai karakter yang diajarkan bukan hanya normatif, tetapi juga memiliki makna kultural yang hidup dalam keseharian anak-anak Madura sebagai bagian dari warga negara Indonesia.
📩 Ingin mengembangkan modul, riset, atau game edukatif berbasis nilai lokal di sekolah Anda?
Hubungi kami di: institute@studiefonds.org | Kunjungi: institute.studiefonds.org
Center for Pancasila and Civic Futures Studies
Musa Institute, Indonesia





Tinggalkan Balasan